Ayahkeren.id – Mengkritik anak memang perlu untuk mengontrol perilakunya jika sudah berlebihan. Namun mengingatkan pun ada caranya. Sebab tahukah Anda, Sebuah Penelitian menunjukkan perkembangan emosional dan kesehatan mental anak dapat terganggu jika orangtua sering mengkritik anak, apalagi secara berlebihan.

Nyatanya Anak yang terlalu sering mendapat kritikan pedas malah tidak begitu peka dalam menilai ekspresi wajah orangtuanya. Fenomena ini disebut dengan bias perhatian, yaitu kecenderungan untuk memperhatikan beberapa hal sambil mengabaikan yang lain.

Sementara biasanya Orangtua akan lebih frustasi dan terus memberikan kritik karena anak menunjukkan bias perhatian, sebab anak-anak yang sering dikritik pedas oleh orangtuanya secara tidak sadar malah mengabaikan kata-kata dan ekspresi marah orangtuanya tersebut.

Ini wajar dilakukan siapa saja, tak terkecuali anak-anak, dalam usaha mempertahankan diri dari rasa takut atau marah. Mereka lebih memilih untuk memusatkan perhatian pada hal lain, misalnya menunduk dan menatap kakinya sendiri. Dengan begitu, mereka tidak perlu merasakan betapa sakit dan malunya dikritik habis-habisan oleh orangtua.

Hal ini kemudian akan membuat perkembangan emosionalnya terganggu. jika orangtua terlalu kasar dalam mengkritik anak. Pola asuh anak seperti ini menurut Greg Hajcak Proudfit, psikolog di Stony Brook University mungkin saja membuat anak jera. Namun, bisa juga membuat anak terkena gangguan kecemasan.

Jadi bagaimana cara terbaiknya menasehati anak?

  • Sadarilah setiap orang pasti pernah berbuat salah, apalagi anak-anak yang masih dalam tahap belajar. Walaupun tingkah anak sering membuat Anda menggelengkan kepala, bukan berarti setiap tindakannya perlu diberi kritikan. Apalagi mengkritiknya secara berlebihan, misalnya dengan suara yang keras atau kata-kata yang kasar.
  • Terapkan tenik “kritikan plus pujian”. Maksudnya, di sela Anda mengkritik anak beri juga pujian dan dukungan padanya. Selain itu, pilih kata-kata yang tidak menyakiti hati anak. Tentu anak akan memberikan perhatian pada Anda. Misalnya anak membiarkan kamarnya berantakan setelah ia menggambar dan mencorat-coret. Coba katakan, “Gambarmu bagus sekali, nak. Tapi kenapa kamarnya jadi berantakan, ya? Kalau gambarnya sudah bagus, kamarnya dibuat bagus juga, dong. Ayo, rapikan pensil warna dan mejamu kalau sudah selesai menggambar.”

Demikian tips, semoga bermanfaat yah!

Sumber: dari berbagai sumber

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.